Digital Humanities

menggunakan algoritma untuk menganalisis jutaan buku sekaligus

Digital Humanities
I

Pernahkah kita berdiri di tengah perpustakaan besar, menatap deretan rak yang menjulang tinggi, dan mendadak merasa sedikit melankolis? Perasaan itu wajar. Sedihnya biasa muncul dari sebuah kesadaran matematis yang kejam: sehebat apa pun kita mengatur waktu, umur kita tidak akan pernah cukup untuk membaca semua buku itu. Kalau kita membaca satu buku setiap minggu selama enam puluh tahun, kita hanya akan menamatkan sekitar tiga ribu buku. Angka itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan lebih dari seratus juta buku yang pernah diterbitkan sepanjang sejarah manusia. Kita terjebak dalam rasa lapar akan pengetahuan, namun dibatasi oleh tubuh yang fana.

II

Selama ribuan tahun, cara kita memahami sejarah dan peradaban selalu sama. Kita membaca buku, surat, atau manuskrip kuno satu per satu. Para sejarawan menghabiskan seumur hidupnya membolak-balik dokumen berdebu di arsip nasional demi merangkai kepingan masa lalu. Pendekatan ini luar biasa mendalam, tapi sejujurnya punya satu titik buta yang fatal. Saat kita terlalu fokus membaca kalimat demi kalimat, kita hanya melihat pohonnya. Kita sangat sering kehilangan gambaran utuh tentang hutannya. Sulit bagi otak kita untuk membandingkan perubahan gaya bahasa, emosi, atau nilai moral masyarakat dari abad ke-16 hingga abad ke-21 secara akurat dan objektif, karena memori manusia itu rapuh dan penuh bias.

III

Lalu, muncul sebuah pemikiran yang menggelitik para ilmuwan. Bagaimana jika kita tidak perlu membaca semuanya satu per satu? Coba teman-teman bayangkan jika kita memiliki sebuah "mata super" buatan yang bisa membaca, mengingat, dan membedah lima juta buku secara bersamaan dalam hitungan detik. Apakah kita akan menemukan pola psikologis tersembunyi dari nenek moyang kita? Mungkinkah ada emosi kolektif masyarakat zaman dulu yang tidak pernah disadari oleh siapa pun, terperangkap diam-diam di antara miliaran kata yang pernah dicetak? Jika bahasa adalah cermin pikiran manusia, apa yang akan terjadi jika kita menaruh jutaan cermin itu berjejeran? Pertanyaan-pertanyaan ini membuat para peneliti gatal untuk mencari tahu. Di sinilah keadaan mulai berubah menjadi sangat, sangat menarik.

IV

Selamat datang di era Digital Humanities, sebuah persimpangan radikal antara sejarah, psikologi, dan ilmu komputer. Para ilmuwan kini tidak lagi sekadar membaca; mereka menggunakan algoritma text mining (penggalian teks) untuk menganalisis jutaan buku yang telah didigitalkan. Praktik ini melahirkan cabang sains yang benar-benar baru, yang secara ilmiah disebut sebagai culturomics. Alih-alih mencari tahu alur cerita sebuah novel, algoritma ini melacak frekuensi, korelasi, dan evolusi kata melintasi berabad-abad.

Hasilnya sungguh membuat merinding. Lewat data raksasa ini, ilmuwan bisa melihat bagaimana sebuah negara perlahan jatuh dalam otoritarianisme hanya dari perubahan kosakata di koran dan buku mereka—sensor rezim terekam jelas saat nama-nama tokoh tertentu mendadak hilang dari literatur, seperti terhapus dari eksistensi. Di sisi psikologi, peneliti memetakan penggunaan kosakata emosional dari tahun ke tahun. Mereka menemukan bukti kuantitatif bagaimana trauma kolektif masyarakat akibat Perang Dunia tercermin langsung dari merosotnya kata-kata "kegembiraan" dan naiknya kosakata "kesedihan" atau "ketakutan" dalam karya fiksi fiksi pada era tersebut. Di mata algoritma, tumpukan buku tua itu bukan lagi sekadar cerita fiksi, melainkan fosil emosi manusia yang akhirnya bisa kita petakan susunan DNA-nya.

V

Tentu saja, akan ada yang bertanya, apakah menggunakan mesin untuk membaca buku merampas sisi romantis dari literatur? Sama sekali tidak. Algoritma raksasa ini tidak pernah dirancang untuk menggantikan kenikmatan kita menyeduh kopi sambil tenggelam dalam novel yang bagus di sore yang hujan. Mesin tidak bisa menangis saat membaca kisah yang sedih.

Namun, teknologi ini memberi kita alat bantu yang luar biasa. Ia bertindak sebagai cermin raksasa bagi sejarah jiwa kemanusiaan kita. Lewat mesin yang dingin dan deretan kode matematis yang kaku, kita justru menemukan kembali kehangatan, kerapuhan, ketakutan, serta ketangguhan umat manusia dari masa ke masa secara utuh. Kita mungkin memang tidak akan pernah punya umur yang cukup untuk membaca semua buku di dunia ini. Namun, setidaknya hari ini, bersama-sama kita mulai bisa mendengarkan denyut jantung peradaban yang bersembunyi di baliknya.